dalam Love

Tidak ada salahnya untuk bersiap menuju jenjang pernikahan. Kita diajarkan oleh masyarakat untuk menunggu waktu yang tepat untuk menikah, karena hal tersebut adalah hal yang sakral. wajar jika kita selalu bersiap untuk menyambut hari besar tersebut datang.

Namun kenyataan di masyarakat yang terjadi adalah, buru-buru menikah adalah hal yang keren. Seakan-akan jika sudah menikah seseorang akan lebih superior dalam kasta masyarakat dibanding mereka yang belum. Bagi mereka yang sudah pacaran dan merasa hubungannya serius, tidak ada pilihan lain selain ngebet ingin segera naik ke pelaminan.

Namun pernahkah wahai kalian yang ngebet ingin menikah, bahwa hubungan itu dijalani berdua, dan belum tentu pasanganmu juga sesiap kamu? Memaksa diri untuk menikah dapat membahayakan pernikahan kalian juga kelak.

Nah, untuk mengetahui apakah kamu seorang yang ngebet ingin segera menikah, which is annoying bagi pasangan, keluarga, bahkan orang lain, lihatlah beberapa pertanda berikut dan hindarilah.

1. Kamu merasa pede dan mantap terlalu cepat

Sebuah hubungan butuh waktu untuk tumbuh dan berkembang menjadi sebuah landasan cinta yang solid. Rasa saling percaya dan respect setiap pasangan pun akan tumbuh darisitu. Jadi, tanyakan pada dirimu sendiri, apakah kamu sudah cukup mantap membangun pondasi tersebut?

Cinta butuh waktu, jadi jangan terlalu cepat. Yang berbahaya adalah terkadang harapan yang berlebihan darimu bisa membuat pasanganmu ketakutan. Beri waktu untuk menikmati hubungan kalian dan jika memang kekasih adalah “your true soulmate,” jenjang selanjutnya tak akan terhalang apapun.

2. Kamu memaksakan batas waktu dalam hubungan

Ketika kamu berada dalam hubungan serius, dan selalu bertanya-tanya kapan sang kekasih akan melamar, kamu mungkin termasuk pada golongan orang yang ngebet nikah. memang baik untuk sedikit menuntut kepada pasangan, jika kamu sudah merasa hubungan tersebut sudah harus naik jenjang. Namun jika pasanganmu tidak merespon sesuai keinginanmu, mungkin permasalaan ada padamu.

Banyak sekali pria yang tahu bahwa wanita yang dikencaninya adalah calon istrinya, serta ada pula yang butuh waktu tahunan untuk menyadarinya. persamaan keduanya adaalah: semua butuh waktu. Kalian boleh sudah merasa kalian adalah soulmate yang tak terpisahkan, namun jodoh dan cinta bukan faktor penentu kalian harus buru-buru menikah. Pemenuhan kebutuhan primer dan rencana jangka panjang adalah hal yang tak boleh luput dipikirkan. Lebih baik, fokus untuk menentukan apakah dia orang yang tepat, ketimbang bimbang menentukan kapan dilamar.

3. Kamu memasukkan pernikahan dalam setiap objek percakapan

Jika kamu terlalu sering memasukkan kata pernikahan ketika berbicara dengan kekasih maka dia pasti akan berpikir bahwa kamu obsessed banget dengan nikah, yang mana itu tidak begitu dipikirkan oleh para lelaki. Jika pernikahan adalah satu-satunya bahan pembicaraanmu dan kekasih, jangan heran jika pasanganmu akan ketakutan lalu perlahan menjauh. Menyebut keinginanmu untuk menikah cukup dilakukan sekali. Bahkan itu lebih dari cukup. Sebab pria tidak akan lelet dalam mengambil keputusan jika bertemu dengan seorang wanita yang dia yakini adalah pasangan hidupnya.

4. Kamu terobsesi dengan segala hal yang berbau pernikahan

Mungkin kamu tidak selalu membahas tentang pernikhaan setiap saat. Tapi kamu punya referensi lengkap soal pernikahan dari majalah dan website yang kamu selami setiap hari. Serta kamu mengungkapnya di semua postingan sosial media kamu. Nah, sosial media adalah medium yang paling nyata untuk mengungkapkan betapa terobsesinya kamu akan pernikahan. Apa yang orang sudah menikah lakukan, kamu akan nge-tag akun sosmed sang pacar dan bilang “kapan kita kayak gini bareng?”

Tujuannya satu, memberi sinyal yang sangat jelas pada kekasih bahwa kamu sudah siap. Tapi ingat, pernikahan hanya terjadi jika ada dua belah pihak pasangan yang siap, bukan hanya kamu saja. Perlu diingat juga bahwa kehidupan pernikahan justru dimulai setelah janji suci dan segala hingar-bingar seremoni resepsi dihelat. Jadi fokuslah pada membangun hubungan yang layak dibawa ke jenjang pernikahan. Jangan terlalu memprioritaskan teknis pernikahan yang tentu sangat bisa dikondisikan.

Tulis Komentar

Komentar