dalam Love

Cara Menghilangkan Sakit Hati Karena Cinta – Kadang, sebuah perpisahan yang nggak pernah terpikir dan diinginkan terjadi ketika perasaan lagi sayang-sayangnya. Banyak faktor yang nggak usah disebutin, yang pasti yang namanya putus pasti ninggalin luka yang mendalam di hati. Pokoknya mah, SAKITNYA TUH DI… *tunjuk bagian yang paling sakit*

Yang namanya sakit, pasti pengin sembuh kan? Bagaimana pun caranya, luka di dalam hati harus cepet sembuh  Kalo bisa dalam kurun waktu seminggu, dengan waktu yang secepat itu dan tempo seingkat-singkatnya.

“APA? Ngilangin luka hati dalam seminggu? Nggak mungkin.”

Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, wahai Kisanak yang doyan nge-retweet tweet galau dan senggol curhat. Semua yang dilakukan dengan sungguh-sungguh nggak jarang mempunyai hasil yang memuaskan.

Okelah, berikut ini adalah cara-cara yang telah terbukti secara empiris oleh Kanda sendiri. Karena untuk move on dari mantan yang cintanya palsu, kita nggak perlu butuh waktu yang lebih dari seminggu.

Nggak Usah Terlalu Ngarep

Abis putus, rata-rata orang masih menyisakan sedikit harapannya yang bikin berpikir bahwa sang mantan bakal ngajak balikan atau mau diajak balikan. Sebenarnya, itu pemikiran yang menjebak banget. Pemikiran itu adalah jurang yang secara nggak disadari bikin kamu jauh jatuh ke dalam harapan semu dan sangat memperhambat proses move on.

Dari mana kamu tau si dia bakal ngajak balikan atau mau diajak balikan? Situ cenayang?

Nggak tau kan? Apa? Tau karena berdasarkan feeling aja? Please deh, yang namanya abis putus itu udah pasti logika dan perasaan nggak singkron. Yang ada di dalam pikiran kamu itu berasal dari ego, keinginan yang paling ingin terwujud. Padahal belum tentu. Janganlah menambah beban move on dengan pemikiran yang retorik.

Harapan itu ada dua tipe: yang menghidupkanmu dan yang membunuhmu.

Kalo feeling dari harapan kamu benar terjadi, kalo enggak? Udah putus tertimpa baper. Bukannya cepet sembuh luka hatinya dalam seminggu, yang ada kamu malah nyeruput aspal cair. Pokoknya ditekankan: nggak usah terlalu ngarep.

Banyakin Kegiatan Supaya Sibuk

Kesedihan memang sangat menggerogoti pikiran serta menguasainya. Lagi makan, kepikiran dia. Lagi belajar, keingetan dia. Lagi nyiumin knalpot Ninja 250 cc, jadi inget bentuk bibir dia yang vertikal cepak tentara. DUH!

Karena pikiran penuh tentang dia, sudah pastilah kamu harus mempunyai (banyak) kegiatan yang bisa mengalihkan pikiran kamu terhadap dia. Coba sekarang inget-inget kegiatan apa yang dulu pengin kamu lakuin tapi hanya berakhir sebatas wacana. Misal, diem-diem meloroting sarung salah satu anggota FPI pas demo, Mencetin bel rumah orang dengan brutal, terus kabur ke Kongo, Atau lomba bowling sama pocong.

Apapun itu, coba lakuin satu per satu supaya kamu nggak punya waktu nganggur –yang bikin kamu malah kepikiran mantan. Hubungi juga teman-teman kamu dan berceritalah supaya lega. Bikin acara hang out sama mereka untuk quality time. Niscaya, kamu bakal perlahan-lahan lupa dia dalam waktu seminggu.

Salurin Emosi Kamu Ke Sebuah Karya

Patah hati itu emosi negatif yang dinamis, tinggal kamu pilih mau salurin ke hal yang baik atau yang buruk? Mau negatif kayak abg labil yang nyilet nadinya pake silet terus difoto dan di-posting ke media sosial, lalu berujung pada hujatan? Atau mau positif dengan menuangkannya ke tulisan, gambar, atau apapun yang bisa saja menjadi sebuah karya yang nantinya membesarkan namamu?

Nggak ada yang tau seberapa dashyat dan magis kekuatan emosi negatif kamu ketika dituangkan menjadi karya. Misalnya tulisan, kamu menulis cinta dengan jujur dan indah dengan sudut pandang versi kamu dalam waktu seminggu sampai seluruh perasaan kamu lega, lalu mengkonversinya menjadi sebuah naskah novel. Kemudian kamu mengirimkan naskah itu ke penerbit dan ternyata naskah kamu diterima dan diterbitkan. Dan kamu nggak pernah menyangka karya dari kegalauan kamu dalam seminggu itu mengantarkan ke gerbang kesuksesan. Nggak percaya? Coba tengok Adele.. Lagunya itu kan hasil patah hatinya dia semua. Liat betapa suksesnya dia sekarang.

Pasti kamu senang banget kan patah hati kamu bisa jadi karya yang dinikmati semua orang dan sumber rezeki? Cuma karena putus sama mantan yang pacarannya cuma 12 menit, eh royalti karya kamu ngalir terus seumur hidup. Udah gitu pas si mantan tau, dia nyesel sekonyong-konyong dan nangis mecin karena udah mutusin kamu.

Kalo udah gitu ketawain aja dan berterima kasih dengan nada sarkas… HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.

Kenal Dengan Orang Baru yang Berpotensi Jadi Penyembuh

Hidup memang tentang datang dan pergi. Dan orang yang kamu sayangi baru saja pergi dari kehidupan kamu. Berarti sudah saatnya kamu mengenal orang baru –yang berpotensi jadi penyembuh.

“Tapi gue kan malu, masa baru kenalan langsung cerita ini-itu.”

Lho, kenapa mesti malu untuk mengenal orang baru? Ya berkenalan mah berkenalan aja. Kalau mau curhat ya silakan juga, tapi diliat juga orangnya, bisa jaga rahasia atau enggak? Berkenalan ini tuh maksudnya biar pikiran kamu yang sumpek mikirin si mantan jadi beralih mikirin orang baru.

Banyaklah berkenalan dengan orang baru dalam semingu, bisa aja di antaranya berpotensi jadi penyembuh, entah berkenalan di dunia nyata atau di sosial media. Nggak usah muluk-muluk langsung digebet, PDKT, dan jadian. Yang ada orang yang kamu baru kenal itu itu malah hanya menjadi pelarian dari rasa kesepian. Kasian. Anggap aja banyaknya perkenalan itu jadi investasi gebetan untuk kemudian hari.

Dari sekian banyak perkenalan dalam waktu seminggu, pasti ada yang nyangkut jadi temen curhat, temen jalan, bahkan sahabat baru. Mereka bisa jadi penyembuh luka hati kamu. Mulai dari dengerin kamu curhat, nemenin kamu jalan, dan menetap di kehidupan kamu. Tinggal disaring deh mana yang tulus dan yang modus.

Bahagia itu sederhana, Kisanak. Sesederhana perkenalan yang terjadi dalam waktu seminggu dan memiliki teman baru. Ngapain sih sayang banget sama mantan brengsek yang kalimat sayangnya cuma berakhir di mulut doang? Udah saatnya kamu beranjak untuk menemukan atau ditemukan pasangan yang pantas untuk disetiakan. Ahzeg. ~

Hindari Keinginan Untuk Memenuhi Rasa Penasaran

Curiousity kills the cat.

Dari peribahasa itu aja udah jelas banget kan kalo rasa penasaran itu membunuh. Membunuh segala niat dan persiapan kamu untuk sembuh dari luka hati a.k.a move on.

Udah berapa kali kamu jadi keledai yang nggak belajar dari pengalaman bahwa stalking mantan itu hanya berujung pada nyesek dikoyak-koyak kenyataan bahwa dia udah bukan milik kamu lagi? Masih kurang jelas? UDAH BUKAN MILIK KAMU LAGI. UDAH BUKAN MILIK KAMU LAGIUDAH BUKAN MILIK KAMU LAGI.

Kalo udah tau begitu kenapa masih bego banget nekat memenuhi rasa penasaran stalking apapun yang berbau tentang si setan mantan?

Coba deh dalam waktu seminggu terhitung sejak detik kalimat putus dideklarasikan, kamu menyetrum diri dengan kalimat: NGGAK USAH KEPO. Lakukan dan biasakan kebiasaan untuk nggak kepo sampai akhirnya kamu terbiasa dan bodo-amat-deh-lo-mau-masih-idup-atau-enggak.

Emang sih, pasti kamu ngerasa gateeeel banget pengin tau tentang si dia yang sekarang lagi apa, di mana, dan udah sama siapa. Tapi jika tanda tanya kamu itu dipenuhi, semakin terpuruklah kamu.

Oleh karena itu, hindari keinginan untuk memenuhi rasa penasaran. Daripada niat dan segala persiapan serta amunisi yang udah kamu jimatkan di hati dan pikiran hancur karena kenyataan.

Begitulah proses menyembuhkan luka hati dalam seminggu yang Kanda anjurkan. Semua kembali bagaimana kesungguhan niat kamu untuk ngejalaninnya, syukur-syukur bisa lebih cepat. Karena memang proses yang dijalani tiap orang beda-beda. Namun nggak ada salahnya kan untuk dilakuin? Intinya: teguhkan niat, lakuin, konsisten, dan jangan pernah lagi nengok ke belakang.

Buatlah mantan nyesel udah ninggalin kamu dengan segala perubahan yang jauh lebih baik setelah kamu lepas dari dia. Karena mantan memang tercipta untuk dibuat menyesal.

Namaste, semoga berhasil, Kisanak!

Tulis Komentar

Komentar