bekerja

Jangan Hanya Berpangku Tangan, Kerjakan Sesuatu!

5/5 (1)

Seorang sahabat dan eksekutif dari sebuah perusahaan Jepang yang besar berbicara dengan terus terang pada saya di suatu hari.

Dia berkata: “Kalian orang Amerika sangat senang dengan ekspresi: Jangan hanya berpangku tangan-kerjakan sesuatu’.

Sekali waktu andan harus membalik nasihat itu.

Kami orang Jepang lebih senang menga sa takan ‘Jangan hanya mengerjakan sesuatu saja-duduklah di sana’ Memikirkan mungkin lebih produktif daripada bertindak”.

tang disaya Adalah benar bahwa kaum bisnis Amerika selalu berorientasi pada tindakan, Hanya ketika terbirit-birit pada serangkaian janji-janji, pertemuan dan konferensi yang tiada akhir, mereka benar-benar merasa produktif.

Berada pada suatu usul yang abadi kelihatannya menjadi tujuan utama mereka.

Adalah Santayama yang sekali waktu meng- h amati bahwa orang Amerika memiliki pemaksaan tersembunyi yang tidak akan membiarkan mereka beristirahat, tetapi menyetir mereka untuk bekerja lebih cepat dan lebih cepat lagi, tidak seperti mereka yang fanatik yang meupatgandakan upayanya ketika dia kehilangarn penglihatan atas tujuannya.

Hadiah terbesar yang dapat dibayar seorang eksekutif A.S.

ada dengan menyebutnya sebagai seorang yang dinamis! Seorang yang dinamis, sesuai dengan kamus saya, adalah seorang yang enerjik, kuat dan berwibawa.

Definisi itu tidak memperhatikan kegiatan mental.

Itu akan terlihat, bahwa seseorang dapat menjadi amat dinamis tanpa harus jadi seorang pemikir atau orang yang cerdik.

Sebuah seminar manajemen baru-baru ini diselenggarakan di New York, Honolulu dan beberapa kota lain di dunia pada subyek tentang motivasi.

Sebagaimana diketahui, produktivitas dan motivasi adalah dua topik yang diminati secara khusus oleh eksekutif A.S.

dewasa ini Di Honolulu saja, baru-baru ini, lebih dari lima ratus pimpinan bisnis sangat tertarik pada brosur iklan seminar yang menantang.

Dalam waktu yang singkat yaitu sekitar empat jam (termasuk makan siang), pembicara secara mutlak menjamin akan menyelesaikan semua per- soalan motivasi manajemen.

Yang amat penting adalah, dengan ceta kan yang tebal, brosur itu mempromosikan bahwa pembicara adalah seorang yang amat DINAMIS! Tidak ada keraguan bahwa pembicara adalah seorang yang ener jik (bersemangat), kuat dan berwibawa serta seorang penampil yang mengesankan.

Dengan kabel panjang tergantung pada mikrofon ke- lihatannya dia akan dicekik oleh tali pengikat pada kandang singa.

Melangkah lincah bolak balik dari satu sisi panggung ke sisi lainnya, dengan gerakan-gerakan tangan dan teriakan teriakan, adalah benar bahwa dia sungguh mengesankan dan tampil dengan gaya yang me- mikat.

Tetapi, sangat disayangkan sekali, isi dari pembicaraannya adalah nol besar.

Beberapa waktu kemudian, saya bertanya secara sembarangan pada beberapa peserta seminar, apa pendapat mereka tentang seminar itu.

Hampir dengan suara bulat, komentar yang saya peroleh adalah: “Hebat sekali”.

“Dia adalah pembicara yang hebat”.

“Betul-betul ber- harga dari sudut waktu dan uang”.

Dari jawaban itu, saya mulai heran, apakah saya telah ketinggalan sesuatu yang penting dari pre- sentasi pembicara itu.

Setelah saya berpikir lebih lanjut, bagaimana- pun juga, suatu fakta yang sederhana muncul dalam pemikiran saya, bahwa kaum bisnis Amerika teramat sering menilai orang lain sebaik menilai diri mereka sendiri yaitu menilai pada tindakan ketimbang pada kata-katanya.

Bahwa, substansi dari pendapat pembicara adalah sama kuatnya dengan permen kapas yang kelihatannya mempunyai sedikit sekali perbedaan dengan lainnya.

Dikebanyakan perusahaan besar Amerika, para manajer puncak jarang ditemukan berada pada meja kerjanya.

Daripada di sana, mereka biasanya memimpin suatu konferensi, menghadiri pertemuan klub Rotary, bertugas pada organisasi dermawan yang tak terhitung jum- lahnya, bermain golf dengan rekan-rekan usaha atau sedang dalam perjalanan bisnis yang panjang.

Semua ini akan dapat menjadi aktivitas yang produktif dan ber- guna.

Tetapi dalam kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan bisnis yang kompleks dan tidak mudah dipercaya, maka waktu yang tenang dari mengolah pemikiran dalam suasana kesendirian, adalah suatu keharusan.

Paling sedikit, waktu yang dihabiskan untuk memikirkan adalah sama dengan waktu untuk bertindak.

Ini adalah sebuah pelajaran yang sangat sulit bagi kaum bisnis Amerika untuk menguasainya.

Sejak masih kanak-kanak, orang Amerika selalu diingatkan bahwa “Tangan yang tidak berfungsi adalah penolong bagi setan”.

Jika tertangkap saat mimpi di siang hari, akan ada cacian dan makian.

Dan ketika mereka telah beranjak dewasa, beberapa prosedur yang pasif seperti memikirkan sesuatu, melakukan analisis sendiri atau meditasi, tidaklah dipertimbangkan sebagai sesuatu yang berharga dari penduduk yang berambisi dan bekerja keras.

Betapa terkejutnya seorang pengunjung pada Direktur Utama sebuah perusahaan besar A.S., jika sekretarisnya berkata: “Saya minta Utama tidak dapat diganggu.

Dia sedang sendiri- an di ruang kerjanya, memikirkan sesuatu”.

Dengan anggapan yang terbaik, hal seperti itu adalah suatu kesenangan, akan tetapi kenyata- annya adalah bahwa permintaan maaf seperti itu akan dianggap sanga kasar.

Hal seperti itu dapat diterima bila sedang dalam konferensi tetapi bermeditasi sambil memikirkan sesuatu adalah hal yang tidak maaf karena Direktur dapat dimaafkan sama sekali.

Mengambil waktu keluar untuk berpikir adalah sangat mengganggu untuk orang Amerika, karena waktu istirahat seperti itu akan dihabiskan dengan diam.

Mereka mempunyai toleransi yang rendah terhadap diam.

Sebaliknya bagi orang Asia, diam seperti itu dapat berlangsung lama dan pada waktu itu tidak seorangpun yang berkata-kata.

Mereka merasa bahwa kesempatan untuk mengorganisasi dan mengevaluasi pemikiran orang, mungkin akan sangat produktif dalam perundingan atau kon- ferensi Ketika perusahaan A.S.

menggunakan latihan sensitif (atau ka- dangkala disebut juga dengan latihan laboratorium), dalam bidang program pengembangan, tekanan disebabkan karena suasana yang diam, akan dapat terlihat dengan mudah.

Dengan menggunakan pen- dekatan lengkap yang tak beraturan, tujuan dari latihan dimaksud ada- lah menguatkan daya analisis sendiri dan suatu pengertian tentang dampak seseorang bagi yang lainnya.

Baca juga : jasa seo jogja

Karena instruktur melakukan sedikit lebih dalam mengenalkan dirinya, maka sesion pertama dari kursus itu mengesalkan peserta.

Seorang pengusaha A.S.

yang ber- orientasi pada tindakan, menggambarkan sesion pertama itu pada saya.

Pertemuan itu dibuka dalam keheningan.

Orang yang duduk di sekeliling meja adalah asing satu sama lain.

Kami tidak tahu apa yang akan dilakukan, atau apa yang akan dikatakan.

Kami merasa sedikit panik dan beberapa merasa kesal.Keheningan itu menjadi semakin mencekam.

Kami melempar pandang dengan cepat satu sama lairn mencari isyarat yaitu apa yang dapat mengubah keheningan yang tak tertahankan lagi itu.

Satu orang mengetuk-ketukkan jarinya pada meja, yang lain batuk-batuk dan ada satu orang tertawa ngikik dengan gugup.

Saya pikir, kami semua bergabung dalam doa yang hening di mana seseorang akan berkata dan mengakhiri keheningan yang menakutkan ini”.

Selagi menyelenggarakan program latihan sensitif pada perusaha- pe- an-perusahaan A.S., saya menemukan dua cara menyenangkan serta untuk ke luar dari keheningan yang tak tertahankan.

Salah satu cara adalah masing-masing orang mengenalkan dirinya sendiri pada kelompok.

Cara lain adalah mengorganisasi peserta, memilih petugas kelompok dan menyusun agenda.

Tidak satupun dari dua cara itu benar-benar tepat dan produktif dalam setiap acara atau sesion.

Mereka hanya mengulur taktik, tetapi kadang-kadang bertugas untuk memecah kebekuan dan menggerakkan kelompok untuk memulai diskusi yang berguna mengenai tingkah laku kelompok atau masing masing anggotanya.

Ketidakmampuan mereka secara relatif untuk memberikan to- leransi pada keheningan yang berlangsung lama, telah menempatkan banyak dari perunding Amerika pada kesukaran yang serius ketika pihak lain merasa tidak dapat membandingkan antara frustrasi dan tekanan.

Kaum bisnis Amerika cenderung untuk tidak sabaran pada meja perundingan tawar-menawar internasional.

Seperti seorang penulis memperingatkan: “Ini adalah perangai yang jelek sekali ketika pe- rundingan dimulai di ruang canda di Rio atau nightclub Ginza dan jika pihak lain sedang bermain juga dengan aturan orang Brazil atau orang Jepang” Seorang wakil Direktur bidang Internasional dari sebuah per- usahaan, memberi saya sebuah contoh menarik berikut ini yang berkaitan dengan kesalahpahaman atas adat istiadat lokal.

Dia ber kata: “Dalam salah satu perjanjian perusahaan saya di luar negeri.

pembeli kami duduk berseberangan meja dengan perwakilan pabrik Jepang dalam rangka tawar-menawar pada barang-barang yang kami berminat.

Mengikuti kebiasaan bermanis-manis, orang kami menawar $.150.000,- untuk setiap partai barang.

Mendengar tawaran kami, orang Jepang itu, bersandar pada kursinya dan dengan santainya dia ber meditasi.

Pembeli kami.mengira diamnya orang itu sebagai tanda tidak setuju, telah menaikkan tawaran.

Setelah pengajuan itu disetujui, baru lah dia menyadari bahwa tawarannya yang terakhir itu membuatnya harus membayar terlampau banyak”.

Orang Amerika senang bicara dalam pertemuan dan nilai seseorang dipertemuan tersebut lebih banyak ditentukan oleh kuantitas bicara- nya dibanding dengan kualitasnya.

Masaaki Imai, sebaliknya mem- bandingkan dengan perilaku orang senegaranya dengan mengatakan “Duduk membisu adalah sesuatu yang bernilai minus pada konferensi orang Barat, sementara itu, diam adalah perak, bila tidak emas, dalam jalan pikiran orang Jepang.

Banyak para eksekutif Jepang yang dudulk diam sepanjang konferensi.

Tidak ada yang berpikir jelek tentang mereka karena hal itu.

Mereka seperti oksigen, pandangan mereka bisa tidak jelas terlihat, sekalipun sumbangan pemikiran yang posiur.

Jika tidak dan sampai para pemimpin bisnis Amerika dapat mempelajari hidup lebih nyaman dengan keheningan dan menilai berpikir dan mendengar setinggl aktivitas pisik, maka para eksekutif asing akan menikmati keuntungan dan kemajuan yang mudah diraih.

Mungkin para eksekutif puncak Amerika harus dihadiahi patung kecil Budha raksasa dari Kamakura di Jepang.Kerja seni yang amat ber- skesan ini menunjukkan pemimpin yang besar dengan postur bergaya a frut khusus dalam meditasi yang tenang dan damal.

Patung tiruan dari timah itu harusnya diletakkan selamanya pada meja para eksekutif Hal itu akan dapat bertugas sebagai pemberi peringatan yang tetap bahwa pemimpin yang besar akan selalu dingat karena pemikirannya lub G ang Bt sebagaimana juga kata dan perbuatannya.

Suka artikel ini?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen − nine =