dalam Love

“Ha.. Halo…”

“Halo, Han. Apa kabar?” Suara seorang pria terdengar dari seberang sana tanpa menyebut identitas namanya.

“Maaf ini siapa?” Hana mengernyitkan kening, jantungnya berdebar. Gadis itu menebak-nebak siapa orang yang menelpon dengan nomor yang tidak terdaftar di buku kontak ponselnya.

“Kamu udah nerima paket yang aku kirim?” tanya pria itu dengan lembut, lalu diam sejenak. “Nanti kamu juga tau kokSemoga kamu suka dan dipertimbangkan, ya,” sambungnya, lalu mengakhiri percakapan.

Hana berdiri termenung tentang siapa yang menelponnya barusan. Tadi pagi, sebelum berangkat kerja, ibunya bilang bahwa ada paket kiriman. Kemudian Hana keluar dari kamarnya yang baru saja ia rapihkan untuk turun ke ruang tamu.

Sebuah kotak krem yang dibungkus plastik bening tipis tergeletak di meja, tanpa identitas si pengirim. Hana memandangi kotak kecil itu, menimang-nimang sambil menerka isinya, lalu memutuskan untuk membukanya. Hanya butuh waktu kurang dari satu menit kotak krem itu sudah terbebas dari jeratan plastik.

Keringat di dahi Hana mengucur seiring kegugupan yang ia rasakan, udara di rumahnya seolah beku. Perlahan-lahan ia membuka tutup kotak, dan di dalamnya terdapat satu kotak kecil lagi berwarna merah muda yang diikat pita merah marun. Di antara ikatan pita itu terdapat secarik kertas tipis yang bertuliskan ‘About us’.

Hana menarik napas dan membuka kotak kecil itu dengan hati-hati, lalu mendapatkan beberapa cetak foto yang mengabadikan potret dirinya. Gadis itu mengambil selembar foto, lalu melihat senyumnya yang terlihat bahagia di dalam foto itu. Hana ingat siapa orang yang menelponnya tadi. Ia ingat pria itu pernah mencintainya, namun ia juga ingat alasan hubungannya berakhir. Ia juga ingat rasa sakit pengkhianatan dan rindu yang dirasakannya hingga saat ini.

Di antara foto itu, ada gumpalan kertas berwarna biru. Hana membuka gumpalan kertas itu dan menemukan sebuah cincin yang pernah ia kenakan setahun yang lalu. Hana membaca kalimat yang tertulis di kertas yang telah berkerut-kerut.

Is there any chance for me to get back to you? Because, I’m still loving you, Hana.”

Hana menyeka air matanya yang tak terasa sudah berselancar di pipinya, beribu bimbang berkecamuk di pikirannya. Ery, ya, pria itu ternyata menepati janjinya untuk kembali.

Apa yang harus Hana lakukan?

Kalo kita berada di dalam posisi Hana, tentu kita juga pasti bakal ngerasa dilema. Banyak pertimbangan yang harus dipikirin, karena ini tentu mempengaruhi hidup kita ke depannya. Jadi, harus gimana dong? Oke, kita pikirin deh secara sistematis pertimbangan itu. Ahzeg. ~

Inget penyebab putus

Saat si mantan ngajak balikan, hal pertama dan paling penting yang mesti dipertimbangkan adalah apa penyebab kalian putus? Dia mendua? Nyia-nyiain kamu? Bosan? Perilakunya kasar? Faktor restu? Atau hal lain?

Kalo penyebabnya adalah karena si dia mendua, menyia-nyiakanmu, atau perilakunya kasar, nggak menutup kemungkinan dia akan melakukan itu lagi. Kenapa? Karena emang pada dasarnya brengsek. Juga kalo nggak direstui oleh orang tua, mendingan jangan karena akan rumit di kemudian hari. Semasih sayang apapun kamu sama mantanmu dan sekeras apapun usaha dia kembali, kalau penyebabnya adalah itu, mending jangan.

Inget apa aja yang udah kamu dapatkan di masa lalu

Setiap hubungan yang tercipta sudah pasti itu akan mengubah hidup kamu sedik-banyak. Nah, apa aja perubahan itu? Apakah saat bersama dia kamu jadi pribadi yang lebih baik? Atau sebaliknya? Coba inget lagi.

Pacaran itu kan salah satu proses penting dalam tahap pendewasaan. Banyak hal yang kamu petik dari sana, nggak cuma kebersamaannya aja. Jadi kalo kamu udah dapet kesimpulannya, pertimbangkah hal di bawah ini.

Lihat kehidupan kamu sekarang

Bersyukurlah kamu karena masih bisa menghirup udara segar dan menikmati bahagia yang berasal dari orang-orang di sekitar yang kamu sayangi, dan menyayangi kamu. Apakah di masa lalu bersama si mantan kamu dapat merasakan kebahagiaan itu dan ditambah bahagia darinya? Kalo enggak, kenapa harus kembali?

Kalo kehidupan kamu sekarang lebih baik tanpa kehadiran mantan, buat apa kembali kalo nggak sebaik sekarang? Apalagi kalo dulu kamu malah tersiksa dan hanya merasakan kesedihan. Jangan terjatuh ke lubang jurang yang sama.

Lihat diri mantanmu sekarang

Seiring berjalannya waktu, hampir semua orang pasti mengalami perubahan, terutama pola pikir dan perilakunya. Itu yang juga harus dipertimbangkan ketika dia ngajak balikan. Apakah dirinya kini jadi lebih baik, enggak berubah, atau malah semakin buruk? Itu bisa jadi patokan dan jaminan bagaimana hubungan kamu ke depannya.

Gunakanlah logika kamu untuk mengontrol perasaan yang sekiranya menggebu untuk berpikir jernih. Jangan terjebak dengan hasrat ego, yang membuat kamu menutup mata atas masa lalu. Memang, masa lalu biarkan berlalu dan nggak usah dibahas lagi, tapi yang jadi persoalannya adalah kamu kembali ke masa lalu untuk orang yang pernah bersamamu di masa lalu itu.

Kalo si mantan sekarang lebih baik, itu bisa jadi pertimbangan untuk mengatakan ‘Ya’. Kalo nggak berubah atau justru kebalikannya, nggak usah kelamaan mikir untuk bilang ‘Tidak!’.

Bagaimana perasaanmu terhadapnya sekarang

Dari semua pertimbangan di atas, hal terakhir yang paling menentukannya adalah perasaanmu. Karena semua memang kembali pada keadaan hati kamu terhadapnya. Poin-poin di atas adalah perbandingan berdasarkan logika yang menentukan keputusan, tapi yang paling mempengaruhi adalah perasaanmu.

Karena untuk masalah hati, kadang kamu menutup mata dan nggak mikirin ke depannya. Hanya bermodalkan ‘karena masih sayang’, kamu jadi dengan mudah menerima ajakan balikan itu, dan pada akhirnya, yang kamu dapatkan lagi-lagi hanyalah luka.

Intinya, balikan sama mantan itu seperti nonton ulang film yang sama. Kamu udah tau bagaimana ending-nya. There is no happy ending if you’re not happy. Itulah kenapa kamu harus mempertimbangkan banyak hal berdasarkan logika.

Namun balikan sama mantan itu juga nggak selalu buruk kok. Beberapa mantan cukup diberi maaf dan dibikin menyesal, bukan kesempatan. Maka dari pertimbangan itu kamu bisa memilah siapa yang pantas kamu beri kesempatan.

Kembali pada orang di masa lalu hanya berlaku untuk ia yang pantas memperbaiki masa depanmu.

Bukan cinta namanya kalau hanya soal bahagia, bukan cinta juga bila cuma memikul kesedihan. Tapi cinta adalah keduanya, dan tetap yang terpenting adalah kebahagiaanmu,

Jadi, kalau mantan ngajak balikan, kamu mau nggak? demikian artikel Kapan Waktu yang Tepat Untuk Pacaran.

Tulis Komentar

Komentar