dalam Ideas

Ketahuan Nyontek – Malu-maluin, udah bertahun-tahun sekolah tapi nyontek masih ketahuan. Padahal, nyontek itu ilmu yang wajib dikuasai kaum pelajar. Meski hal ini termasuk perbuatan tercela, nggak ada salahnya kita kuasai. Biar kalau kepepet, nggak bingung harus berbuat apa. Atau misal kalau udah gede jadi guru, bisa tau gimana gelagat murid yang lagi nyontek.

Orang yang jago nyontek, harus tau apa yang dia lakukan ketika ketahuan nyontek. Pilihannya ada dua. Ngeles biar nggak dihukum, atau lompat keluar jendela.

Ngeles juga nggak gampang. Kalau salah, bakalan dihukum, malah lebih parah. Kalau nggak, ya lolos. Caranya biar lolos dari hukuman? Gampang! Coba jawab dengan ini:

“Saya Anak Kepsek”

Nggak ada yang berani sama kepsek alias kepala sekolah. Kepala sekolah itu jabatan tertinggi di sekolahan. Orang yang memimpin, sekaligus yang menentukan posisi jabatan guru-guru di sekolahan tersebut. Makanya, guru pada takut sama kepala sekolah. Nanti kalau macem-macem, nggak dikasih jabatan.

Kalau ketauan , coba bilang anak kepsek. Tapi, hindari percakapan seperti ini:

“Kamu nyontek! Kamu pantas dihukum!”

“Saya anak kepsek, Pak!”

“Lho, kan saya kepseknya!”

“Yaudah, bapak mau nggak jadi bapak saya?”

Jangan sampai pengawasmu itu kepseknya sendiri.

“Saya Titisan Dewa”

Seringkali di film-film India kolosal, sebut saja Mahabharata, sangat menghormati keberadaan dewa. Menurutnya, dewa itu sesuatu yang sangat sakral, sangat ditakuti.

Mungkin alasan ini bisa dipakai, siapa tau aja dia percaya. Tapi, usahakan kamu mengingat nama-nama dewa. Jangan sampai seperti ini:

“Kamu nyontek! Kamu pantas dihukum!”

“Saya titisan dewa.”

“Apaaaah?! Oh noooo, maafkan akuuu. Tapi, dewa yang mana ya, yang mulia titisan dewa?”

“Dewa Bujana.”

“Bilangin Mamah, Nih”

Ingatkah kamu di kala kita kecil, setiap kita dijahili oleh teman, seringkali kita membalas dengan, “Bilangin mamah, nih!”? Kemudian anak itu menjauh, lalu memanggil mamahnya. Kemudian mamah versus mamah. Lalu kalian hidup aman terhindar dari konflik.

Nggak ada salahnya hal ini dicoba ketika kamu ketauan nyontek. Tapi ingat, hindari situasi ini:

“Kamu nyontek! Kamu pantas dimakzulkan!”

“Bilangin mamah, nih!”

“Lho, ini kan mamah! Dasar anak kurang ajar! Mamah mana lagi yang kamu jadikan  mamah?!”

“Nyawa Anak Anda Ada di Tangan Saya”

Kalau nonton sinetron Indonesia, ada salah satu adegan yang bikin dada berdebar-debar. Yaitu pas adegan penculik bilang, “Nyawa anak anda ada di tangan saya!” yang kemudian kamera di-zoom in sampai pori-porinya keliatan, lalu handphone-nya terlepas dari genggaman sambil bilang, “Anakkuuuh… anakkuh oh nooooooooo.. ini semua tidak mungkiiiiiin…”

Ini keren, asli. Begitu ketauan, kamu bilang kayak gini. Pasti dia akan takut, lalu membiarkanmu nyontek meski nyonteknya ke sekolah seberang. Tapi, jangan sampai terjadi seperti ini:

“Kamu nyontek! Kamu pantas bersatu dengan Ratu Pantai Selatan!”

“Nyawa anak anda ada di tangan saya!”

“Seriusan?! Ya ampuun, bunuh aja diaaa! Nyusahiin! Mana bangunnya siang mulu lagih! Huh!”

“Umur Saya Tinggal Sebentar Lagi”

Cara ini sasarannya adalah hati nurani. Hati mana yang tidak terketuk ketika tau umur lawan bicaranya tinggal sebentar lagi? Bisa dibayangin ketika kamu bilang seperti ini, mata dia akan berkaca-kaca. Lalu nangis meraung-raung sambil berteriak, “AKU PENUNGGU TEMPAT INI! MANA SUSILO?! MANAAAA??!”

Oh, meen, itu kesurupan. Salah.

Ada yang pernah pas ujian ketauan nyontek, nggak? Terus diapain? Alasannya gimana pas ketauan?

Tulis Komentar

Komentar