Di Atas Semuanya, Marilah Bersahabat

Hai! Saya Bill Jones

Angin yang bertiup dalam suasana informal adalah suatu cap yang sah dan berharga dari para pemimpin bisnis Amerika Serikat.

Adalah benar bahwa para manajer di mana saja menghadapi suatu seDaga dilema umum, yaitu harus melatih kewenangan dan pada waktu ber- samaan mencoba agar disukai para bawahan.

Perbedaan nyata di antara negara-negara terletak pada prioritas yang diberikan pada setiap tujuan ini. Para manajer dari Asia dan Eropa secara konsisten lebih menitik- beratkan pada latihan melaksanakan kewenangan.

Para manajer Amerika mempunyai keinginan yang tetap dan mendalam untuk di- ihar glihatan ya. senangi dan di atas itu semua, ingin bersahabat.

Suatu ilustrasi dari suasana informal gaya Amerika, terdapat dalam sebuah cerita yang beredar selama masa jabatan Presiden Jimmy Carter di Gedung Putih. Waktu itu adalah pertemuan pertama Carter dengan Ratu Elizabeth dari Inggris.

Sebagai suatu kejutan bagi para hadirin menggemparkan keluarga kerajaan Inggeris, Presiden melambai- tangannya,tersenyum dengan senyumannya yang terkenal, dan dan kan berkata: “Hai, Saya Jimmy Carter”.

Benar tidaknya cerita itu, hal itu telah menjadi suatu patokan, bahwa dari Presiden sampai ke pekerja kasar, orang Amerika menolak pertemuan-pertemuan yang menyesak kan dan lebih menyukai suatu upacara yang terbuka dengan hubung- dit me Ut ak ino iku ole an-hubungan yang bersahabat.

Salah satu perusahaan yang tercantum sebagai “500 besar” di Majalah Fortune, baru baru ini mengangkat seorang Direktur Pemasaran yang baru, bernama Marvin S.White. Tuan White memiliki gelar MBA dari Harvard University dan Ph.D. dari University Stanford.

Men dahului kehadirannya, seluruh staf pemasaran menghabiskan waktu berjam-jam untuk berdebat apakah akan menyebut pimpinan baru itu nya SI ber mes yan ba suat jenis besa hub dengan Dr. White atau Tuan White Di saat pagi pertama dia masuk kerja, Direktur baru itu memanggil semua staf untuk bersama-sama mengadakan pertemuan di ruang kantornya.

Secepatnya, seorang staf yang bersemangat bertanya “Dr.White, apa yang anda lihat sebagai suatu tujuan yang paling penting dari departemen (bidang atau bagian) ini?” Jawaban cepat dari Di rektur baru itu adalah: “Tujuan kita yang pertama adalah menggunakan patokan nama depan.

Panggil saja saya dengan Marv Orang Amerika, lebih dari kelompok bangsa manapun, member nilai pada suasana yang informal dan persamaan dalam hubungan kemanusiaan. Penekanan mereka pada nama depan hanya merupakan awal saja.

Contoh lain adalah desakan yang meluas pada apa yang dinamakan kebijaksanaan pintu terbuka. Kedua upaya seperti ini yaitu menekankan pada hubungan yang mudah dan terbuka menimbulkan masalah tertentu.

Paksaan atas persamaan adalah cukup berbahaya bila bekerja dengan klien atau mitra asing. Eksekutif A.S. sering mencoba membuat mitra asingnya merasa nyaman dengan mengabai- kan indikator status atau gelar atau mengabaikan “formalitas yang tidak perlu” seperti misalnya perkenalan yang memakan waktu lama.

Tetapi, yang sering terjadi, malah mereka hanya berhasil membuat nyaman diri sendiri, sementara mitra asing mereka mulai resah me- disal bahw nyala oleh diseb adala laku mere adalal merel bersa meny pegan harus dilaku ngesalkan.

Di Jepang, misalnya, penggunaan kartu nama, atau meishi adalah suatu keharusan, Sebagaimana dalam masyarakat manapun juga yang vertikal, perbedaan status adalah sangat penting.

Sebelum sebuah kat yang Ditereme diucapkan, kilatan mata yang cepat pada kartu nama seseorang,akan memberi tahu eksekutif Jepang siapa meremehkan siapa.

Direktur Utama dari perusahaan “kelas satu” dalam suatu industri, secara jelas akan meremehkan Direktur Utama dari perusahaan “kelas dua” di- industri yang sama.

Bahkan bahasa yang dipergunakan dalam meng- ikuti percakapan itu, akan bergantung dari perbedaan status yang diakui oleh kedua belah pihak. Semua penekanan yang dikaitkan dengan peringkat ini, kelihatan- nya menjadi sesuatu yang tidak masuk akal (nonsense) untuk kaum bisnis Amerika.

Sebagaimana seorang manajer A.S. yang pernah bermain dengan kartu-kartu nama itu, mengeluh, “Orang-orang itu mestinya gila.

Bukannya siapa anda yang diperhitungkan, tetapi apa yang dapat anda lakukan”. Sementara itu mungkin hal tersebut benar bagi orang-orang Amerika yang setengah konservatif, tapi bukanlah suatu tingkah laku yang diterima di Tokyo, Paris atau London.

Umur jenis kelamin, lulusan Universitas,posisi dalam organisasi dan ukuran besarnya perusahaan seseorang, semuanya itu akan berpengaruh bagi hubungan-hubungan pribadi. Cara para manajer Amerika yang santai dan jalan mudah dapat disalahartikan oleh para pengunjung asing.

Sering mereka berpikir bahwa hal yang begitu mudah dan keakraban yang terbuka, semesti- nyalah dangkal dan omong besar saja.

Apa yang sering dilupakan olch orang asing itu adalah kebutuhan yang berlebihan (seperti yang disebut terdahulu) dari orang-orang Amerika agar mereka disukai. Itu adalah suatu nilai teramat penting yang mempengaruhi sikap dan peri- laku kaum bisnis Amerika.

Tidak hanya mereka harus disenangi, tetapi mereka juga harus menyatakan untuk menyenangi semua orang lain.

Karena mereka tahu hal ini adalah tidak realistis, hasil bersihnya adalah bahwa banyak para manajer A.S. menderita dari sesuatu yang mereka berikan lebih daripada tensi kegugupan dan bahkan merasa bersalah.

Sebagaimana seorang pengamat yang berpengalaman menyebutkan,: “Tensi Amerika, berhaluan luas dari mencoba ber- pegang teguh pada pandangan idealis yang berlebih bahwa seseorang menyenangi siapa saja yang lain atau bila hal itu tidak bisa kan, paling sedikit berpura-puralah seperti itu”.

Suatu pencarian yang sia-sia untuk persamaan, meskipun lebih baik daripada men- harus dilakukan, Apa yang cringat ciptakan persahabatan yang sejati, hasilnya sangat sering dalam hubungan yang sukar dan mudah tersentuh dalam kaitannya dengan orang-orang non Amerika.

Kembali pada desakan orang Amerika pada penggunaan yang cepat dari nama depan, ada sedikit keraguan bahwa praktek ini secara khusus tidak layak untuk kaum bisnis asing. Sementara kasus Jepang mungkin merupakan contoh yang ekstrim, adalah adil untuk dibicara kan bahwa di negara itu, nama depan hanya digunakan di antara anggota keluarga saja dan teman-teman yang intim.

Bahkan teman bisnis dan teman kerja yang telah bergaul lama, masih merasa malu dan segan untuk menggunakan nama depan.

Keheranan kecil yang jika dipaksakan, sebaliknya muncul hampir seketika, bila ada ucapan- ucapan selamat dengan sebutan Marv, Betty, Cedric, atau Bill yang menimbulkan rasa risih dan bisikan-bisikan kekecewaan.

Apakah orang Cina, Jepang, Jerman atau Rusia, kaum bisnis asing sering menanggapi penggunaan nama depan oleh orang Amerika sebagai sesuatu yang dapat dimengerti, tetapi sering merasa kaku n kepercayaan bahwa “Ketika di Roma, jadilah seperti orang Roma”, adalah suatu nasihat yang baik, mereka menyematkan pada nama depan Inggris yang sederhana pada nama keluarga mereka, kemudian mendesak agar semua orang menyebutnya Tom, Dick atau Denga Harry. Hal ini mungkin sebagai suatu kasus saja.

Baca juga : jasa seo jepara

Dalam suatu kasus yang ekstrim, seorang teman Jepang saya, memutuskan bahwa namanya, Hiroshi Ishihara, adalah tidak mungkin dieja oleh orang Amerika.

Semenjak “ishi” dalam bahasa Jepang, salah satunya berarti batu gunung (rock), dia memutuskan untuk seterusnya ingin dipanggil dengan “Rocky”, di mana keputusannya ini hanya disetujui oleh teman Amerikanya yang tidak mempeduli kan makna sebenarnya.

Kiranya cukup berharga untuk dicatat bahwa hampir disemua kasus dari pemungutan nama Inggris, nama itu hanya dipergunakan bila teman-teman asingnya berkunjung bersama teman senegaranya.

Seperti halnya Ishihara-san menjelaskan pada saya: “Hal itu akan terdengar begitu bodoh Seperti halnya dengan nama depan, banyak juga dibicarakan tapi jarang dipraktekkan, adalah bahwa kebijaksanaan pintu terbuka sering memberikan sumbangan pada perasaan bersalah dan frustrasi pada sebagian kaum bisnis Amerika yang jujur.

Dalam teori, kebijaksanaan itu harus berarti bahwa setiap pintu para manajer, termasuk Direktur Utama, adalah selalu terbuka untuk siapa saja yang ingin bertemu dan berbincang-bincang mengenai bisnis perusahaan. Ide tersebut sangat menarik bagi orang yang posisinya jauh lebih rendah dalam organ- isasi bisnis.

Jika seorang petugas pembersih ruangan mendapatkan ide untuk meningkatkan kebersihan di kamar mandi dan w.c., agaknya dia dapat membagi ide itu dengan Direktur Utama.

Jika seorang manajer menengah mempunyai suatu masalah, Ketua Eksekutif (Ketua Dewan Direktur) diduga akan senang dan menunggu untuk mendiskusi- kan hal tersebut dengannya. Sekalipun demikian, dalam praktek, kebijaksanaan jarang dikuti.

Walaupun pintu dapat atau tidak dapat terbuka secara pisik, rintangan sosial dan psikologis membuat para pekerja menolak untuk me- masukinya. Kebanyakan pekerja benci untuk meminta izin atasan bahwa mereka punya suatu masalah.

Bahkan para manajer puncak sebenarnya menolak untuk memasuki ruangan luas Direktur Utama yang bersuhu amat sejuk, tanpa suatu alasan yang benar-benar pantas.

Bagaimana rupanya ia, seorang buruh rendahan, atau bahkan manajer menengah, berada dalam lift non stop langsung ke lantai paling atas dan berhadapan dengan “Majikan Besar” (Big Boss) dalam ruang kantornya yang sangat mewah? Kadangkala, kebijaksanaan pintu terbuka sebenarnya mempunyai suatu maksud yaitu untuk membuat para eksekutif mau dan dapat berkomunikasi dengan para bawahan, sementara itu, dalam kenyata annya, mereka tetap menjaga jarak.

Sebagaimana seorang manajer berkata: “Pintu terbuka sering hanya sebagai suatu slogan saja untuk menyembunyikan pikiran-pikiran yang akrab”.

Barangkali, pemakaian terbaik dari suatu kebijaksanaan pintu terbuka adalah untuk meng para manajer untuk berjalan terus dengan itu dan ke luar ber izinkan sama para pekerjanya.

Dalam satu kasus, perusahaan menggeser kebijaksanaan pintu usahaan.

Para pekerja diminta untuk memberi tanda bahwa tiga atau ukanya dari ruang manajemen ke ruang kafetaria atau kantin per empat di antara mereka pada waktunya, duduk dan berdiskusi dengan Apa yang e anggota manajemen senior selama waktu makan siang, mengenai masalah-masalah yang mereka temui dalam pekerjaan.

Meskipun sangat sukarela sifatnya , suatu kejutan terjadi , bahwa 80 % dari para pekerja memilih untuk berpartisipasi.

Topik-topik yang secara khusus di- bicarakan adalah produktivitas, kepuasan kerja dan komunikasi.

Sayangnya, tidak banyak dari cerita tentang kesuksesan-kesuksesan itu yang dapat dilaporkan.

Dalam sebagian besar kasus, kebijaksanaan pintu terbuka hanya merefleksikan idealisme yang berlebihan dengan menitikberatkan pada suasana informal yang sangat bertentangan dengan kebutuhan yang terus-menerus dari organisasi untuk ke- pemimpinan yang jelas dan untuk melatih kewenangan.

Para pengunjung asing tidak akan dibodohi oleh penggunaan yang cepat dari nama depan kaum bisnis Amerika, oleh penggunaan kebijaksanaan pintu terbukanya atau oleh bukti-bukti tidak kuat dari persahabatan yang informal.

Marv tua yang baik, bahkan dengan pintu kantornya yang terbuka lebar, dapat menjadi keras-kaku, lamban dan otokrasi seperti seorang Ford, Mellon atau Carnegie.

“Kapten dari industri” yang terhormat dari masa lalu Amerika adalah kepemimpin- an nenek moyangnya dan para pahlawan yang sebenarnya.

Sementara desakan terbuka bahwa: “Kita semua di sini adalah satu keluarga besar yang benar menjadi lebih segan dengan peribahasa lama: “Keramahtama- han menurunkan penghinaan” bahagia”, maka dalam hati dan pikirannya, dia dapat benar-

Suka artikel ini?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *