dalam Blog

Seperti biasa, pria turunan Arab yang besar di daerah Krukut itu selalu datang dengan diringi tawa dan sapaan khasnya. “Gimana kabar ente Man,” ujarnya sambil memeluk Bang Usman. “Yah lumayan dech,” jawab Ko A Wen sambil membalas pelukan Abud. 

“Nah lu Us, gimana nih? Udah nambah anak lagi belum?” sambung Abud setelah berpaling ke arah Daus dan menjabat tanganya dengan erat serta memeluknya. 

“Masih seperti yang dulu, belum ada perubahan apa-apa. Abang sendiri gimana? sehat-sehat aja?” balas Daus. 

“Alhamdulillah berkat doa lu berdua, gue masih segar bugar seperti ini,” jawab Abud, seraya melepas pelukannya. 

Tiga orang ini pun larut dalam perbincangan yang cukup hangat dan akrab. Mereka bertukar informasi dari soal keluarga sampai bisnis.  

“Jadi sekarang selain agro bisnis, lu orang juga buka bengkel dan penyewaan mobil di Bogor?” tanya Bang Usman. “Yah, begitu dech, gue memang harus berusaha cari tambahan, karena beban keluarga sekarang juga bertambah,” jelas Abud. 

“Bertambah gimana maksud lu, khan semua anak lu udah pada nikah. Malah kalau gak salah yang bungsu si Ahmad sekarang udah lulus kuliah, bukannya jadi tambah ringan beban lu,” ulas Bang Usman. 

Abud cuma mesem sambil menyeruput es teh manis yang ada di atas meja. “Gue sekarang punya dua dapur Wen,” katanya enteng. 

“Ohhh, jadi lu udah kawin lagi sekarang?” samber Bang Usman. 

“Yah Man, gue dapat janda muda dari Sukabumi, sekarang sedang hamil delapan bulan,” jelas Abud sambil tertawa. 

“Dasar gila lu Bud..Udah mau punya cucu masih aja cari daun muda,” seloroh Usman yang disambut dengan tawa keras Abud. “Gue khan jalanin sunah Nabi Mad,” ucapnya enteng. 

“Ini yang gue kurang setuju,” tandas Daus dengan mimik serius. “Lho kenapa emangnya?” balas Abud gak kalah seriusnya. “Kalau gue merasa masih sanggup, kenapa gak boleh kawin lagi?” sambungnya. 

“Abang jangan bawa-bawa sunah Nabi demi kepentingan syahwat. Setahu gue, Nabi Muhammad menikahi istri-istri dengan dasar ibadah kepada Allah, bukan karena nafsu,” tegas Daus.

“Gue juga menikah lagi karena dasar ibadah, bukan karena nafsu semata. Khan lebih baik gue nikahi tuh janda ketimbang gue berzinah,” tandas Abud. 

“Tapi syarat utamanya orang berpoligami itu harus bisa bertindak adil terhadap istri-istrinya. Nah itu apa lu bisa?” sergah Bang Usman.  

“Rupanya sekarang lu udah terbawa opini tentang polemik berpoligami yang ramai diperdebatkan banyak orang yah,” ujar Abud dengan senyum sedikit sinis. “Yah, karean gue berprinsip, hidup sekali, nikahsekali, mati sekali. Gue gak mau membuat sakit hari perempuan,” tegas Daus. 

“Bagus kalau begitu. Gue juga menikah lagi bukan maksud untuk menyaikiti hati istri gue. TApi karena memang gue merasa mampu dan sanggup untuk itu,” balas Abud. 

“Tapi gue tetap kurang setuju. Karena biar bagaimanapun pasti tindakan lu berpoligami itu menimbulkan masalah dalam keluarga lu, terutama istri dan anak-anak lu,” tegas Daus. 

“Boleh aja lu gak setuju, tapi lu juga mesti lihat persoalan ini secara komprehensif dan obyektif.  Jangan memandang langit dari dalam sumur. Si Abud kawin lagi,pasti dia punya alasan dan pertimbangan sendiri dan kita orang mesti bisa menghargai itu,” ulas Bang Usman, sembari menyeruput kopi hangatnya. (Btt) 

Tulis Komentar

Komentar