dalam Blog

Mengamati yang Nomor Satu

Tapal batas Amerika adalah tempat yang kasar,keras dan primitif, penuh dengan orang Indian, angin ribut yang berdebu dan penuh dengan ular berbisa.

Para pedagang Amerika mengendarai kereta kuda mereka yang sarat barang dan kemudian membuka daerah Barat. Dengan risiko pribadi yang amat besar, mereka menggunakan akal budi untuk meraih keuntungan.

Langsung untuk kepentingan mereka, tidak loyal pada salah satu kelompok tetapi hanya pada keinginan keluarga yang segera harus dipenuhi, para pengusaha baru ini tahu bahwa aturan yang ter- baik adalah: “Tembak dulu, bertanya kemudian”.

Ketika mereka di- kelilingi oleh teriakan-teriakan dari suku Indian dengan hiasan-hias an dan lukisan di badan sebagai tanda perang serta panah beracun pada busurnya, maka tidak ada waktu lagi untuk membentuk ke- lompok dan membuat konsensus atau menjalankan kepemimpinan partisipatif.

Ketua eksekutif dari perusahaan-perusahaan Amerika sekarang ini, tidak pernah melupakan pelajaran tentang tapal batas itu.

Mereka tetap dengan bangga menunjukkan bahwa mereka adalah individu yang berselimut.

Bagaimanapun, mereka ingin melindungi suatu pan- dangan yang membuat mereka tampil tegar, kuat dan sanggup me- mutuskan.

Sementara mereka bisa saja berkata perlunya kerja sama dan mendapatkan input dari bawah, tetapi jika ada tekanan, kita menemukan bahwa para manajer A.S. dapat menjadi otokrasi dan ber keinginan amat keras, sebagaimana halnya para pendahulu mereka.

Sangat dalam pada lubuk hatinya, kebanyakan eksekutif puncak per caya bahwa cara pandang yang sama mengenai kuatnya rasa indi vidualistis itulah yang membuat Amerika menjadi pemimpin industri yang besar dan kuat.

Bahkan, penglihatan sekilas pada buku-buku sejarah A.S. akan terlihat adanya dorongan untuk menekankan pada tindakan yang indi- vidualistis dan bebas.

Para pengusaha terdahulu, yang disebut para kapten industri, adalah sangat berkuasa dan orang yang tidak sabaran. Dalam pengetahuan saya, tidak seorangpun menuntut mereka karena berorientasi pada kelompok atau gaya kepemimpinan mereka yang demokratis.

Para pionir industri ini adalah para pemimpin dari teori X yang akan dibedaki pada pemikiran untuk melaksanakan pengelompokan menurut teori Y.

Tambahan pula, mereka akan mendapatkan simpati sama sekali dari Teori Z dari William Ouchi yang terkenal sekarang akan penekanannya pada kepercayaan, membesarkan kesalahan dar keakraban.

Kebenarannya adalah bahwa para pimpinan bisnis Amerika yang amat modern sekarang, bahkan tetap menyukai visi tradisional dari atasan yang kuat dan mampu memutuskan sesuatu, yang di- topang oleh para ahli di bidangnya, merupakan orang-orang yang dapat mengundang semua tanda-tanda kegiatan.

Meskipun demikian, bahkan pembaca yang sangat kebetulan di antara kaum bisnis Amerika, harus mengetahui sekarang bahwa indi vidualistisnya yang terselimut berada dalam keadaan yang amat berten- tangan dengan kepemimpinan kelompok sentris dari para ekesekutif kepala (CEO) orang Jepang dari Honda, Matsushita atau Idemitsu.

Dia tahu bahwa orang-orang ini lebih senang untuk membagi tanggung jawab dengan kolega-kolega mereka dan mereka pantas untuk merasa tidak nyaman ketika diberi pujian atau pengakuan yang bersifat pribadi.

Dia menyadari bahwa keputusan untuk memberikan penghargaan adalah berkat kesuksesan yang dicapai oleh perusahaan mereka sebagai suatu keluarga.

Baru-baru ini. saya bertanya pada Direktur Utama sebuah per- usahaan besar A.S. yang mempunyai pengetahuan lebih baik tentang bisnis Jepang.mengenai perbedaan visi tersebut.

“Mengapa?” saya bertanya, “apakah anda berbuat lebih banyak seperti para manajer Jepang? Mereka tidak merasa mereka harus menjadi begitu keras dan kaku”. Setelah memikirkan secara serius pertanyaan pertanyaan saya, dia berkata: “Ada satu alasan baik untuk melihat perbedaan gaya kepemimpinan kita.

Orang-orang itu tumbuh dalam budaya padi. Bila anda menanam padi, semua orang harus menolong yang lain. Itu bukan kegiatan satu orang. Tetapi kita berbeda.

Kita tumbuh dalam kebuas- an, mengampak pohon dan kayu, serta mencangkul tanah-tanah baru. Dalam situasi seperti itu, setiap orang adalah berbuat untuk dirinya sendiri”. Kiranya, itu bukan jawaban yang jelek atas pertanyaan yang sulit. Para manajer Amerika ingin mengerjakan sesuatu atas kemampu an mereka sendiri.

Mereka benar-benar ingin mengambil tanggung- jawab individual atas tindakan mercka. Mereka ingin, bahkan baha gia, untuk maju atau mundur atas catatan kesuksesan atau kegagalan mereka.

Persaingan antar individu muncul secara alamiah. Selagi masih kanak-kanak, mereka didorong semangatnya untuk mencari sesuatu oleh mereka sendiri.

Dalam sebuah analisis atas gaya perundingan Amerika, sebuah artikel dalam Sekilas Pandang Bisnis oleh Harvard University, menyebutkan bahwa penggunaan metode kasus di kelas-kelas univer- sitas sebagai penyumbang utama untuk individualisme yang agresif.

Penulisnya menyebutkan bahwa Tidak di manapun juga pada sistem pendidikan A.S..kompetisi dan memenangkannya adalah lebih penting daripada studi kasus dalam kelas-kelas bisnis dan hukum kita.

Maha siswa yang membuat argumentasi terbaik, mengatur bukti-bukti yang terbaik atau mengalahkan argumentasi lawan akan memenangkan penghormatan dari kawan-kawan sekelas dan menerima nilai yang tinggi”.

Penekanan berat pada individualisme di antara para manajer Amerika telah menyebabkan mereka dikritik karena memikirkan kepentingan diri sendiri dan terlampau egosentris.

Hal ini tidak begitu adil. Jika kaum bisnis A.S. mengurus tentang Amerika nomor satu, itu adalah semata-mata karena tidak ada orang lain yang akan berbuat begitu.

Sementara itu, para eksekutif Amerika,mungkin merupakan pemimpin yang kurang keamanannya di dunia ini. Dia tidak punya jaminan untuk bekerja seumur hidup, dia harus mengambil risiko yang berbahaya dan dia juga berada di bawah tekanan yang konstan untuk menunjukkan suatu keuntungan mendasar berjangka pendek.

Lagi pula, tidak ada satupun Serikat Buruh yang menopang para manajer Amerika dan sesungguhnya, bahkan hukum melarang seorang pengawas tingkat pertama sekalipun untuk bergabung dengan Serikat Buruh yang sama dengan yang mewakili para bawahannya. Jika dia tidak menangani pekerjaannya dengan sangat memuaskan bagi atas annya, dia boleh keluar.

Kesuksesan dari ratusan perusahaan yang khusus bagi penyaluran para manajer, yang disebut dengan “pemburu manajer” (manager hunter), adalah bukti nyata dari perpindahan yang tinggi di antara para top eksekutif Amerika.

dan percaya perilaku manajer yang khas itu ? Jika kaum bisnis asing menerima individualisme yang ekstrim diri sebagai perwatakan yang dominan sejak dini bag para eksekutif Amerika, apa hasil yang dapat mereka harapkan atas Pertama, secara jelas memelihara suatu kebutuhan yang kuat untuk pencapaian keinginan dan kemajuan individu. Hal ini mengarahkan mereka untuk melakukan sesuatu untuk memaksimalkan kenyataan.

ang menciptakan suatu “profil yang tinggi”. Sayangnya, dalam upaya menarik perhatian yang menguntungkan bagi mereka sendiri, mereka seringkali kelihatannya banyak bicara dan sibuk Seorang teman saya berkebangsaan Malaysia, baru-baru ini mengeluh pada saya mengenai apa yang dipertimbangkannya sebagai sikap yang kaku dan kasar di sebagian kaum bisnis Amerika.

Sikap dan perilaku yang halus di antara orang-orang Melayu yang umumnya tenang, rendah diri, sangatlah berbeda.

Bagi dia, suara yang keras lantang dan tindakan-tindakan agresif dari para manajer A.S., adalah amat menjengkelkan.

Kiranya sedikit mengherankan, semenjak dalam kulturnya menyebutkan bahwa meninggikan suara tanpa mengindahkan orang lain adalah sama saja dengan peragaan kesombongan tempera- men orang Kaukasia.

Apa yang teman saya tidak mengerti sepenuhnya adalah bahwa pada perusahaan-perusahaan A.S., kompetisi antar per- orangan adalah sangat ketat, penuh saling curiga dan saling tidak percaya antara satu sama lain akan berkembang dengan sangat mudah.

Pertemuan-pertemuan menjadi arena pertandingan saling menyerang satu sama lain dan masing-masing individu mencoba untuk memoles pendapatnya sendiri dengan sumbangannya yang cerdik dan masuk akal dalam diskusi tersebut.

Dalam lingkungan yang seperti ini, ke- rendahan hati dan menahan diri bukanlah kualitas yang akan me- menangkan teman atau mempengaruhi orang-orang. Hasil kedua dari individualisme di A.S. adalah bahwa ia telah membuat para manajer sangat berhati-hati dalam berkomunikasi de- ngan orang lain.

Baca juga : jasa seo demak

Membagi informasi dengan siapa saja, apakah kawan satu perusahaan atau seorang pengunjung asing, adalah dihindari sejauh mungkin. Informasi adalah kekuatan dan cenderung untuk dijaga dengan ketat.

Hanya saja, ketika membagi informasi menjadi pe- nyebab kegiatan selanjutnya, akan ada keinginan dari para manajer A.S.

untuk memberinya dengan hati yang lapang. Pengalaman saya dapat memperkuat pendapat ini.

Selama sepuluh tahun terakhir ini, saya mendapatkan kegembiraan dengan memberi kuliah pada JAIMS (Japan America Institute of Management Science, Institut IImu Manajemen Jepang – Amerika), sebuah pusat pengembangan manajemen dimiliki oleh Perusahaan Jepang, Fujitstu Corporation, berlokasi di Hawaii. Saya cenderung untuk berpikir bahwa institut itu seperti bangunan perpaduan antara Timur dan Barat di- bidang ilmiah, di mana Timur bertemu Barat dan masing-masing mem- berikan andil yang sama besarnya.

Para mahasiswa Amerika meng akhiri kuliahnya di JAIMS dengan sebuah kuliah kerja secara inten epang.

Sebalik sif selama 5 bulan di perusahaan-perusahaan besar J nya, para mahasiswa Jepang, harus menyelesaikannya dengan lapangan yang singkat pada beberapa perusahaan A.S.

Beberapa studi per usahaan Amerika mau membuka pintunya dalam basis jangka panjang dan berkelanjutan bagi mahasiswa asing atau kaum bisnis asing Memang secara umum harus diakui bahwa rahasia perusahaan haruslah terjaga dengan baik dan komunikasi yang terbuka dengan pihak-pihak luar, tidak dipertimbangkan sebagai sesuatu yang berkenan dihati.

Mengawasi Nomor Satu adalah hasil ketiga atas perilaku para manajer Amerika.

Hal itu membuat mereka tidak sabaran dalam berhubungan dengan orang lain. Sayangnya, hal ini sering menyebab- kan timbulnya rasa cemas pada sebagian orang-orang non Amerika yang menggunakan cara-cara bisnis dengan lebih mencari kesenang- an.

Di Amerika Serikat, adalah benar bahwa dalam percakapan dua arah atau pertemuan, ada kecenderungan untuk mencapai hasil de- ngan berpindah-pindah dan hal ini tidaklah menyinggung perasaan yang lain.

Sekalipun demikian, apakah di Brazil atau di Jepang sindrome “Jam gelang” adalah contoh utama dari kekasaran orang Amerika.

Contoh lain dapat diberikan sebagai hasil atas perilaku yang bebas dan individualistis yang dipunyai orang Amerika atau yang juga sering disebut dengan panggilan Yankee.

Dibandingkan dengan pemeliharaan yang berhati-hati dari hubungan kelompok dalam kebanyakan per usahaan di luar Amerika Serikat, para manajer Amerika tampil meng- hadapi orang asing sebagai sekelompok penyendiri yang bersuara lantang dan berpusat pada diri sendiri.

Untuk tingkat tertentu, tuduhan ini adalah benar. Mereka tetap secara kuat dipengaruhi oleh cerita tapal batas mereka.

Tahun-tahun formatif mereka dihabiskan dengan sistem pendidikan yang mendorong mereka untuk bersaing terus-menerus tanpa belas kasihan. Sekarang mereka bekerja pada lingkungan perusahaan di mana pencari jejak cepat yang tak banyak bicara, biasanya yang memenangkan perlom- baan.

Dalam situasi semacam ini, orang hebat dan pintar perusahaan, akan mengalami kerugian dalam suasana yang kacau balau,sementara para individualis yang terselimut meneruskan perjuangan mereka untuk tetap hidup dan tetap sebagai jagoan bagi semua jalan menuju puncak karier.

Tulis Komentar

Komentar