dalam Blog

Tidak Ada Tempat Seperti di Rumah Sendiri

4.5/5 (2)

Hampir semua orang di dunia ini mengetahui bahwa Amerika Se- rikat telah berjuang keras menghadapi masalah ekspor yang serius.

Setiap tahun orang Amerika membeli lebih banyak dari yang dijual ke luar negeri dalam jumlah milyaran dollar.

Ini adalah masalah amat tetap ahun rong arang jejak rlom- haan entara berat dengan penyelesaian yang belum terlihat sejak dini.

Bagaimana kita bisa menjelaskan tentang kegagalan yang suram dari kaum bisnis Amerika dalam rangka menjual produk dan ilmu pengetahuan mereka di pasar luar negeri? Apakah para pedagang Amerika telah benar-benar kehilangan tradisi jago-jago penjualannya yang sangat hebat? Atau, apakah kejatuhan mereka itu adalah sebagai korban dari perdagangan yang tidak adil dan tidak jujur, bahkan korupsi dan praktek perdagangan yang membatasi penjualan kepada pelanggan yang penting seperti Jerman dan Jepang? enuju Tidak satupun dari penjelasan itu menyebutkan kebenaran yang hakiki dari persoalan ekspor Amerika.

Alasan utama kaum bisnis Amerika tidak bekerja baik di pasar asing adalah karena mereka tidak mau berbuat begitu.

Oke, itu benar.

Di samping adanya pengumumanba yang bijaksana dari juru bicara Pemerintah bahwa kita harus berputartin terus pada neraca perdagangan yang defisit, kaum bisnis Amerika secara individu, agaknya tidak akan terlibat, kecuali untuk kunjungan ha singkat keluar negeri, yaitu percampuran bisnis dengan kesenangan.lu Karenanya, para eksekutif Amerika lebih senang tinggal di negaranya ak ketimbang berbisnis ke luar negeri Ini tidaklah berarti bahwa para pemimpim bisnis A.S.

akan mem- ek benarkan kurang berseleranya mereka pada perdagangan luar negeri, usaha patungan dan investasi luar negeri serta menghadapi tempat dan orang yang masih asing ataupun mengesalkan orang lain.

Kaum bisnis Amerika dapat juga bersikap defensif (bertahan), agresif atau kedua duanya.

Pada titik seperti ini,banyak kaum bisnis musiman Amerika mengeluh sambil bertanya: “Apakah mereka tidak bisa melakukan sesuatu seperti cara yang telah kita lakukan dengan melihat kebe- lakang yaitu kejayaan Amerika Serikat di masa lalu?”.

Jenjang ini digambarkan sebagai penurunan yang tajam pada kurva penyesuaian dir An na me me budaya Dengan semakin terasa ruwetnya periode yang sulit ini, praktek yang biasanya dijalankan oleh perusahaan-perusahaan Amerika adalah secepatnya mengizinkan isteri dan anak anak para manajer untuk me- nyertainya pada penempatan di luar negeri.

Tidak hanya anggota keluarga, tetapi kucing, anjing dan piano besar dapat disetujui untuk dikapalkan atas beban perusahaan.

Hal ini untuk lebih meyakinkan rumah sendiri, tanpa bal ba tid: lua per kel bahwa para eksekutif akan merasa seperti di mempersoalkan ke mana dia akan dikirim bet Sayang sekali, keluarga dan harta milik yang lain, hanya mem- buat penyesuaian pada penempatan tugas yang baru dan sulit, itu menjadi suatu trauma (hal yang menakutkan).

Para eksekutif itu, tidak hanya menghadapi berbagai masalah bisnis, tetapi juga isteri dan anak-anaknya.

Sementara dia membuat hubungan yang diperlukan dengan mitra bisnisnya, isterinya menderita dari suatu perasaan ter isolasi yang berlebihan.

Dengan tanpa atau sedikit kemampuan ber bahasa lokal, urusan-urusan rumah tangga yang sederhana, dapat menjadi pengalaman melelahkan dan menimbulkan frustrasi.

darl semua kegiatan sosial yang normal di tempat asalnya, ketidak- bahagiaan dapat beralih menjadi mudah marah dan tersinggung serta timbul suasana yang bermusuhan dalam hubungan keluarga.

Sebuah asosiasi manajemen Amerika menjadi begitu me nper hatikan tingginya tingkat kegagalan para eksekutif pada penugasan di luar negeri dan menyelenggarakan suatu survai untuk menentukan apa penyebab utama dari kegagalan tersebut.

Tidak satupun yang heran akan hasilnya.

Disebutkan bahwa penyebab utama dari kegagalan para eksekutif di luar negeri adalah para isteri mereka sebagai individu.

Walaupun begitu, suatu harapan menyebutkan bahwa pisah selama enam bulan sampai sang manajer dapat benar-benar menyesuaikan diri secara baik dan beralasan, tidak dapat diterima oleh keluarga Amerika.

Suatu penurunan pendek pada puncak tengah dari kurva W (kurva naik turunnya siklus ekonomi) mengandung arti pengunjung Amerika menjadi terbiasa dengan perbedaan praktek dan kebijaksanaan teman kerja bisnisnya.

Mungkin dia telah mempelajari bahasa, telah dapat menyesuaikan diri dengan suhu udara dan mulai menyenangi makan- an lokal.

Kehidupan mulai bergairah lagi dan dia bahkan mengakui bahwa orang-orang di sekitarnya tidaklah begitu jelek.

Tetapi catatlah bahwa kurva itu hanya menunjukkan peningkatan yang rendah dan tidak akan kembali pada posisi atas.

Pengunjung selalu menjadi orang luar dan, kecuali pada kasus tertentu yang ekstrim, dia tidak akan pernah mencapai kesenangan yang penuh percaya diri dan berdasar- kan kemampuan diri sendiri meskipun dia sudah akrab dengan se- kelilingnya.

Setelah beberapa waktu, berkisar antara beberapa bulan menjadi beberapa tahun, tenaga-tenaga asing dipanggil pulang ke negara asalnya, yaitu Amerika Serikat.

Sekali lagi, kurva W menunjukkan penurunan yang tajam yang dikenal sebagai krisis karena datang kembali (re-entry crisis).

Mungkin kembali ke kantor pusat di New York, dia menemukan buruh-buruh dok sedang mogok, supir-supir taksi yang bersungut-sungut, penunggu bar dan restoran yang tamak dan harga harga-tinggi mengagetkan.

Dalam pandangan ke belakang, kehidupan di Tokyo, Paris atau Madrid tidak kelihatan kurang me- nyenangkan.

Untungnya, krisis ini tidak terlalu lama berakhir dan dia dapat lagi berhubungan secara akrab dengan teman-temannya.

Peningkatan akhir dari kurva W ditempatkan sebagai kembalinya mereka yang bepergian pada kegiatan rutin yang normal kembali, ber- gembira dengan teman-teman lama dan menempatkan kembali gaya kehidupan sebagai seorang eksekutif bisnis Amerika.

Dalam fakta yang nyata, peningkatan seperti ini tidak harus dilihat sebagai semua jalan menuju puncak.

Siapapun eksekutif bisnis yang pernah di tempatkan di luar negeri, tidak soal betapapun pendek waktunya, tidak akan pernah lagi mencapai puncak kemuliaan dengan kepercayaan diri yang penuh dalam superioritas dari sistim menejemen Amerika yang dinikmatinya sebelum meninggalkan rumah.

Dia dapat lebih luwes, lebih senang terbuka, dan peka terhadap pilihan cara-cara yang berkenaan dengan masalah-masalah manajemen.

Kebanyakan kaum bisnis A.S., bagaimanapun, tidak ingin dan tidak akan pernah terus menghadapi lingkaran penyesuaian dan pe nyesuaian kembali yang sulit ini dalam penempatan tugas di luar negeri.

Baca juga : jasa seo jogja

Bila memberikan pilihan, mereka lebih suka tinggal di Amerika Serikat dan pergi sekali sekali dalam perjalanan bisnis ke luar negeri Sebaliknya, manajer asing dari beberapa negara industri terkemuka terlihat lebih mempunyai kemampuan menetap yang amat tinggi.

Saya teringat pada percakapan baru-baru ini dengan seorang manajer per usahaan Jepang yang besar yang bertugas di Brazil.

Dia baru ber- alaman satu bulan dari kenungkinan penempatannya yang khusus selama tiga sampai lima tahun.

lama dalam pikirannya, teman Amerika-nya mau tinggal di Jepang.

Jawabannya yang cepat adalah: “Tidak lebih dari enam minggu!” Jelaslah, perbedaan toleransi atas penunjukan tugas di luar negeri, menempatkan perusahaan-perusahaan Amerika pada posisi persaing- an yang tidak menguntungkan Adalah sulit untuk menghindari kesimpulan bahwa perusahaan perusahaan agresif di luar Amerika Serikat merasa agak yakin akan membuat andil yang besar dalam pasar dunia.

Di bawah tuntutan resmi bahwa Amerika siap bersaing di luar negeri, kenyataannya timbul penolakan tidak resmi dari sebagian manajer-manajer sebagai indi- vidu, bahkan dalam suasana perjuangan yang ketat sekalipun.

Seorang eksekutif mengatakan pengakuannya bahwa, ” Ketika semua dikatakan dan dikerjakan, saya akan gelar kasur istirahat saya yang manis, mobil dinas Cadilac dan daging iris Texas yang berkuah lezat” Jadikanlah itu sebagai suatu yang sederhana, bahwa tidak ada tempat yang sama seperti di tempat sendiri.

Suka artikel ini?

Tulis Komentar

Komentar